Selasa, 14 Februari 2017

Teknologi Untuk Mengatasi Gangguan Dan Kelainan Pada Sistem Pencernaan Manusia

Teknologi Untuk Mengatasi Gangguan Dan Kelainan Pada Sistem Pencernaan Manusia - Kemajuan di bidang teknologi telah banyak membantu manusia dalam menciptakan peralatan yang mampu mendeteksi atau bahkan menyembuhkan berbagai gangguan dan kelainan pada sistem pencernaan manusia. 

Misalnya saja, deteksi kanker usus dengan sinar X dan pengambilan jaringan mukosa usus dengan menggunakan alat yang disebut gastroskop; teknik pemeriksaan organ pencernaan dengan endoskopi; pemecahan batu empedu dengan gelombang suara yang dipusatkan; dan penggunaan pil berkamera untuk diagnosis penyakit "gastrointestinal" (saluran pencernaan).

Saat ini, kanker usus telah dapat dideteksi dengan menggunakan sinar X atau dengan cara pemeriksaan jaringan mukosa usus. Pemeriksaan terhadap adanya kelainan pada mukosa usus tersebut biasanya dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang disebut gastroskop. 

Alat tersebut berupa serat optik yang lentur sehingga dapat dimasukan ke dalam usus melalui mulut. 

Gambar dari serat optik pada gastroskop dapat dilihat langsung pada layar monitor sehingga baik dokter maupun pasien dapat melihat keadaan dinding usus secara langsung.

Jika dalam pemeriksaan tersebut ditemukan adanya kanker usus maka akan dilakukan kangkah - langkah penanganan selanjutnya, baik melalui kemoterapi maupun melalui pengangkatan bagian yang terkena kanker secara lokal (gastrectomi). 

Selain kanker usus, penanganan gangguan pada sistem pencernaan yang berupa batu empedu juga mengalami kemajuan. Batu empedu merupakan suatu endapan kapur pada kantung empedu yang biasanya menyumbat saluran empedu. 

Batu empedu biasanya dapat tertekan mengalir ke saluran empedu dan dikeluarkan. Namun, jika batu empedu tersebut berukuran besar maka tidak dapat dikeluarkan dan akan menyumbat saluran empedu. 

Keadaan tersebut dinamakan kholestitis. Saat ini telah ditemukan cara aman untuk menghancurkan batu empedu pada penderita kholestitis, yaitu dengan menggunakan gelombang suara yang dipusatkan. 

Penderita kholesistitis berendam dalam air, kemudian batu empedu dihancurkan melalui gelombang suara yang dipusatkan. Alat yang digunakan untuk terapi ini disebut "lithotriper". 

Endapan kapur yang hancur akibat gelombang suara yang dipusatkan tersebut akan keluar dengan mudah dari saluran empedu. Jika adanya batu empedu menyebabkan infeksi dan inflamasi serta terbentuknya lubang maka harus dilakukan pembedahan, pengambilan kantong empedu (Kholesistectomi). 

Selain itu, berbagai macam penyakit pada saluran pencernaan juga telah di dapat diagnosis dengan cara endoskopi dan penggunaan pil berkamera. Endoskopi merupakan suatu teknik pemeriksaan saluran pencernaan dengan suatu alat berupa selang/ tabung serat optik yang disebut endoskop. 

Stent Dan Balon Harapan Baru Bagi Penderita Jantung Koroner

Stent Dan Balon Harapan Baru Bagi Penderita Jantung Koroner - Laporan badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2004 mencatat, tujuh juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung koroner. Angka tersebut diperkiarakan meningkat menjadi 11 juta pada tahun 2020. Akan tetapi, kemajuan di bidang medis telah memberi harapan baru bagi penderita penyakit jantung koroner dengan ditemukanya sebuah alat bantu yang dinamakan "stent" dan "balon". 

Stent merupakan anyaman stainlesstell atau baja antikarat berbentuk cincin yang membungkus sebagian dari permukaan luar balon yang digunakan sebagai media untuk menempatkan stent pada pembuluh darah yang mengalami penyempitan. 

Diameter stent di mulai dari 2,25 hingga 4 mm, sedangkan panjangnya mencapai 33 mm. Pemilihan stent ditentukan oleh dokter berdasarkan diameter koroner dan panjangnya pembuluh yang mengalami penyempitan. 

Istilah stent di ambil dari nama seorang dokter gigi asal Inggris, yaitu Charles T. STent (1807 - 1885) yang berhasil menemukan alat penyangga khusus untuk meratakan gigi. 

Setelah stent dan balon sampai pada pembuluh darah yang mengalami penyempitan maka balon akan melepaskan Stent untuk tetap meregang pada pembuluh darah mengembang dan terbuka kembali untuk aliran darah. 

Stent ini berfungsi untuk menyanggah lumen arteri koroner agar tidak menyempit kembali atau restenosis, setelah dilebarkan oleh balon. Dari beberapa kasus ini, restenosis dapat diturunkan sampai 20% dengan menggunakan Stent. 

Sebaliknya, tanpa stent hampir 40% penderita mengeluh nyeri dada akibat restenosis. Menurut dr. A. Fauzi Yahya, Sp.J.P. Seorang dokter spesialis jantung di RS. Hasan sadikin Bandung mengatakan bahwa pemasangan alat ini sederhana. 

Stent berbentuk cincin yang menempel pada balon di ujung kateter diarahkan ke lokasi penyempitan. Pada saat balon dikembangkan maka Stent pun ikut mengembang lalu menempel pada lumen pembuluh darah arteri koronaria. 

Balon kemudian dikempiskan dan ditarik kembali dengan meninggalkan Stent dalam koroner. Stent yang didesain ada yang menggunakan lapisan obat makrolid anti jamur yang bersifat imunosupresan kuat. Stent yang demikian menurut dr. Fauzi, harganya dua hingga tiga kali lipat dari yang tanpa lapis obat. 

Penanganan koroner kini tidak hanya dengan penderita satu penyempitan koroner, tetapi juga pada ketiga penyempitan pembuluh koroner jantung. Kemajuan ini ternyata berdampak pada penurunan jumlah bedah Bypass, hal ini dapat dimengerti karena orang lebih senang menjalani tindakan tanpa pembedahan ketimbang harus menjalani operasi bedah jantung. 


Adapaun prosedur pemasangan Stent dan Balon tersebut, adalah sebagai berikut : 

1. Kateter disisipkan melalui arteri besar yang akan menuju jantung, dimana pada saat itu juga disisipkan zat warna khusus ke dalam arteri yang digunakan dalam membantu menunjukan tempat terjadinya penyempitan pada koronaria. 

2. Sebuah alat yang tersusun atas balon terbungkus Stent anyaman diarahkan menuju tempat terjadinya penyempitan. 

3. Pada saat alat tersebut sampai pada tempat penyempitan maka balon dibesarkan untuk mengembangkan Stent. Stent yang meregang ini menyebabkan pembuluh darah yang menyempit menjadi mengembang. 

4. Setelah Stent meregang maka balon dikempiskan. Sementara itu, Stent tetap meregang hingga balon ditarik kembali keluar. Saat itu pembuluh koronaria akan di tahan oleh Stent yang meregang agar tetap terbuka lumenya dari penyempitan awal. 

Luka Bakar Pada Kulit Dan Transplantasi

Luka Bakar Pada Kulit Dan Transplantasi - Luka Bakar merupakan akibat dri pendarahan pada kulit karena panas, radiasi, sengatan listrik atau elektrik dan senyawa kimia tertentu yang iritatif. Luka bakat pada kulit digolongkan ke dalam tiga kateogir, yaitu luka bakar parsial atau luka bakar kulit kategori pertama, dan ketiga. 

Luka bakar kulit kategori pertama, jika kerusakan kulit terjadi pada lapisan epidermism, misalnya disebabkan oleh radiasi sinar matahari sehingga kulit tampak kemerahan disebut eritrema. 

Luka bakar kulit kategori kedua, jika kerusakan kulit terjadi lapisan epidermis dan beberapa lapisan dermis. Sementara, luka bakar dengan ketebalan penuh, jika kerusakan kulitnya mulai dari lapisan epidermis, dermis hingga subkutan. 

Ujung - ujung saraf, pembuluhdarah, dan komponen dermis lainya mengalami kerusakan. Luka bakar kulit kategori tiga tidak dapat mengalami penyembuhan sendiri. 

Di Amerika Serikat, sekitar 10.000 orang meninggal akibat kebakaran kulit. Jika kebakaran kulit terjadi sampai 20% atau lebih dari seluruh permukaan tubuh akan sangat berbahaya sebab, kulit memiliki beberapa fungsi penting antara lain untuk keseimbangan cairan dan elektrolit, termoregulasi atau pengaturan suhu, dan proteksi terhadap kekeringan, serta infeksi bakteri patogen.

Oleh karena kebakaran kulit kategori tiga tidak dapat mengalami penyembuhan sendiri, maka biasanya dilakukan operasi pengambilan jaringan kulit yang rusak. 

Transplantasi kulit dapat dilakukan terhadp lapisan epidermis dan sebagian kecil dermis atau lapian epidermis dengan lapisan dermis. Melalui terapi penggantian cairan, metode pengontrolan (grafting), pasien muda yang mengalami kebakaran kulit sampai 80 % dapat disembuhkan hingga 50%. 

Teknik transplantasi kulit melibatkan kultur jaringan sel. Sel - sel jaringan epidermis yang sehat, melalui teknik khusus diambil kemudian dikultur secara "in Vivo" di laboratarium. 

Dalam beberapa waktu, sel - sel lapisan germinativum akan membelah dan menghasilkan sel - sel lapisan epidermis. Sel - sel hasil kultur inilah yang digunakan untuk transplantasi pada area jaringan kulit yang terbakar. 

Akan tetapi, yang masih menjadi perdebatan para ahli sampai saat ini adalah tentang kekuatan dan fleksibilitas kulit hasil perbaikan.  

Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan

Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan - Teknik kultur jaringan merupakan salah satu pemuliaan tanaman dengan pengembangan teknik pembiakan vegetatif dalam skala yang lebih luas. Kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman baru yang mempunyai sifat identik dengan induknya. 

Pada prinsipnya, kultur jaringan mengaplikasikan konsep bahwa semua bagian tanaman memiliki kemampuan untuk dapat tumbuh bila ditanam pada medium yang cocok (totipotensi). 

Pada pelaksanaan kultur jaringan hanya diperlukan sedikit bagian tanaman, seperti potongan daun, pucuk, ujung batang, dan organ - organ vegetatif lainya.

Melalui kultur jaringan diperoleh keturunan dengan jumlah yang banyak engan waktu yang relatif singkat. Dalam teknik kultur jaringan yang terdapat beberapa istilah penting yang sering digunakan, seperti eksplan dan kalus. 

Eksplan adalah bagian tanaman yang akan dikultur, seperti akar, daun, dan batang. Sedangkan kalus merupakan hasilpertumbuhan tanaman dengan teknik kultur jaringan yang belum dewasa. 

Penerapan kultur jaringan tumbuhan mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan penanaman konvensional. 

Beberapa keuntungan tersebut, antara lain dengan teknologi kultur jaringan dapat dibentuk senyawa bioaktif dalam kondisi terkontrol dan waktu yang relatif lebih singkat; kultur bebas dari kontaminasi mikroba; setiap sel dapat diperbanyak untuk menghasilkan senyawa metabolit sekunder tertentu; pertumbuhan sel terawasi; dan proses metabolisme dapat diatur secara rasional. 

Selain itu, kultur jaringan tidak tergantung kepada kondisi lingkungan seperti keadaan geografis, iklim dan musim. 

Energi Di Dalam Sel

Energi Di Dalam Sel  - Energi di dalam sel ada beberapa bentuk. yaitu kinetik, panas, potensial dan energi kimia. Dalm sel juga ada pembangkit energi. Ada dua organ yang bertugas sebagai pembangkit energi, yaitu kloroplas dan mitokondria.

Kloroplas hanya ada pada sel tunbuhan, sedangkan mitokondria terdapat pada selo tumbuhan maupun sel hewan. Berkat adanya kloroplas maka tumbuhan hijau dapat mengubah energi yang terkandung dalam cahaya matahari menjadi energi potensial.

Kloroplas terdapat dalam sel daging daun (mesofil) dan mengandung pigmen klorofil. Klorofil ada dua macam yang bekerja sama dari ATP, yaitu ATP --> ADP + P.

Menerima energi (endergonik) berarti menyerap energi dalam ikatan kimia baru yang energi potensialnya lebih besar dari ikatan kimia semula.

Dalm hal ini, ADP bereaksi kembali dengan P membentuk ATP. Reaksi 1 ( ke kanan) di sebut eksergonik merupakan reaksi yang menghasilkan energi. Reaksi 2 (ke kiri) di sebut endergonik merupakan reaksi yang menerima (menggunakan) energi.

Contoh reaksi 1 adalah reaksi pernapasan sel, sedangkan contoh reaksi 2 adalah fotosintesis pada tumbuhan.


Langkah Kegiatan Analisis Bentuk Sperma

 Analisis Bentuk Sperma 

Alat Dan Bahan :

Seperangkat alat bedah dan papan bedah, gelas arloji, pipet pasteur, gelas objek dan kaca penutup, NaCI, 96% (larutan Ringer), formalin 2 % dalam H₂O, Alizarin red S 5% atau metylen blue 1 %, mencit jantan atau testis domba ( 1 testis dapat digunakan satu kelas). 


Langkah Kegiatan : 

1. Buatlah suspensi sperma dari testis yang dihancurkan dengan pinset dalam larutan ringer pada gelas arloji besar. 

2. Buatlah sedemikian rupa sehingga kalian mendapatkan cairan hasil suspensi berwarna putih. 

3. Hisaplah suspensi dengan pipet pasteur dan masukan ke dalam gelas arloji baru, tambahkan larutan ringer seperempat dari volume sperma yang kalian masukan. 

4. Dengan menggunakan pipet, teteskan beberapa tetes sperma ke dalam gelas arloji lainya yang berisi formalin 2%, biarkan 5 - 10 menit. 

5. Ambil sperma yang telah difaksasi (diawetkan) dengan pipet, dan teteskan (2-3 tetes) pada permukaan gelas objek yang telah bersih. 

6. Buatlah apusan sperma yang merata pada kaca objek, biarkan sampai kering, kemudian teteskan pewarna (Alizarin Red S) dan ratakan, tunggu 5 - 10 menit. 

7. Kelebihan zat warna dibuang dengan cara mengalirkan air kran secara perlahan di atas permukaan preparat. 

8. Keringkan dengan cara diangin- anginkan, amati di bawah mikroskop. 

9. Gambarlah spermatozoa yang kalian amati dan berilah keterangan secukupnya!


Pertanyaan : 

1. Apakah kalian menemukan bentuk spermatozoa pada preparat sperma yang kalian buat? Jika kalian menemukan spermatozoa yang abnormal, coba kalian gambat bentuknya?

2. Bagaimanakah bentuk kepala spermatozoa yang kalian amati? Bandingkan dengan gambar kepala spermatozoa manusia! Menurut kalian, apakah kepala spermatozoa setiap hewan bentuknya asam? 

Cara Kerja Persepsi Termoreseptor (Reseptor Suhu)

 Persepsi Termoreseptor (Reseptor Suhu) 


Alat Dan Bahan : 

Gelas ukur, air biasa, es batu, pemanas air, gelas beker. 

Cara Kerja :

1. Sediakan 3 buah gelas beker dan beri label A,B dan C. 

2. Isilah gelas beker A dengan air hangat dan gelas beker B dengan air dingin yang di campur es batu. 

3. Masukan ujung jari tangan kiri ke dalam gelas beker A dan masukan ujung jari tangan kanan ke dalam gelas beker B, rendamlah kedua ujung jari tersebut selama 1 menit. 

4. Campurkan dengan cepat setengah bagian air panas dengan setengah bagian air dingin dan masukan ke dalam gelas beker C. 

5. Celupkan kedua jari yang rendam tadi ke dalam gelas beker C dalam waktu yang bersamaan. 

6. Apa yang dirasakan pada kedua ujung jari tersebut? Panas atau dingin? 


Pertanyaan : 

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan thermoreseptor dan intereseptor? 

2. Apa kesimpulan dari kegiatan tersebut? Buatlah uraian singkat mengenai kesimpulan dari kegiatan ini!